Berbakti kepada Kedua orangtua adalah setiap hari
Sesungguhnya perkara yang agung yang diwasiatkan oleh Agama Islam ini adalah berbakti kepada kedua orangtua. Hal ini sudah disebutkan dalam nash Al Qur'an dan Al Hadits. Dalam Nash-nash tersebut disebutkan bahwa berbakti kepada kedua orangtua adalah secara umum, sedangkan berbakti kepada ibu ada secara khusus. Hal itu karena hak ibu yang sangat besar, terutama kepada anak laki-lakinya.
Ibu memiliki banyak keutamaan dan jasanya, serta perjuangannya yang luar biasa dalam mengandung, melahirkan, menyusui, mendidik, begadang, dan merawat. Oleh karena itu, tidak boleh mengikuti apa yang dinamakan hari ibu atau hari ayah. Karena hari hari tersebut menjauhkan anak-anak untuk berbakti kepada kedua orangtuanya di setiap harinya. Dari sini, jelaslah batalnya apa yang diada-adakan oleh sebagian orang, yaitu mengkhususkan satu hari dalam setahun untuk ibu yang mereka namakan “Hari Ibu”.
Padahal syariat Islam telah memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orangtua dan khususnya kepada ibu itu adalah setiap hari, bukan setahun sekali, bahkan di setiap waktu dan setiap saat. Syariat tidak menjadikan hak ibu hanya sebagai “musim” tertentu yang setelahnya kebaikan kepada beliau boleh terputus. Sama sekali tidak demikian. Orang-orang yang mengikuti hari ibu ataupun hari ayah adalah mereka yang tertipu dan jauh dari nilai nilai agama.
Dalam Al Quran disebutkan:
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا (23-24)﴾ [الإسراء: 23-24].
Dalam ayat yang mulia ini, Allah Ta'ala memerintahkan hamba-hamba-Nya dengan perintah yang tegas agar mereka tidak menyembah kecuali hanya kepada-Nya. Kemudian Allah Ta'ala juga memerintahkan yang agung ini dengan perintah untuk berbuat ihsan (berbuat baik) kepada kedua orang tua. Hal ini menunjukkan betapa agungnya hak kedua orang tua dan betapa tinggi kedudukan mereka di sisi Allah Ta'ala.
Berbuat baik atau Ihsan kepada keduanya adalah berbakti, memuliakan, berbuat baik dalam pergaulan, bersikap rendah hati, melayani, memberi nafkah, serta meninggalkan segala sesuatu yang dapat menyakiti mereka.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:
لَا تَنفُضْ ثَوبَكَ فَيُصِيبَهُمَا الغُبَارُ
“Janganlah engkau mengibaskan bajumu sehingga debu mengenai mereka berdua.”
Urwah juga berkata:
«لَا تَمتَنِعْ عَن شَيءٍ أَحَبَّاهُ»
“Janganlah engkau menolak sesuatu yang mereka sukai.”
Ini termasuk fiqih yang mendalam dalam memahami makna berbakti. Sebab berbakti bukan sekadar kata-kata yang diucapkan, melainkan adab yang menyeluruh, kelembutan budi pekerti, kepedulian yang baik, serta selalu memperhatikan apa yang dapat menyenangkan dan meridai mereka.
Firman Allah Ta’ala:
فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ
[Al-Isra’: 23]
Di dalamnya terdapat larangan yang tegas terhadap kata yang paling ringan sekalipun yang menunjukkan rasa jengkel dan kebosanan.
Kata “Uff” adalah suara yang menunjukkan rasa kesal dan muak. Jika syariat saja melarang kata sekecil ini, maka bagaimana lagi dengan hal-hal yang lebih besar daripada itu, seperti berteriak, memaki, mencaci, menghina, memukul, dan merendahkan mereka?
Kita berlindung kepada Allah dari perbuatan durhaka dan pelakunya.
Demikian juga Firman Allah Ta’ala:
وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
[Al-Isra’: 23]
Artinya: Janganlah engkau membentak mereka berdua, janganlah engkau meninggikan suaramu atas mereka, dan janganlah engkau berbicara kepada mereka dengan kasar dan keras. Akan tetapi, berbicaralah kepada mereka dengan kelembutan, kehalusan, dan ungkapan-ungkapan terbaik yang dituntut oleh adab yang baik, keikhlasan berbakti, dan kesempurnaan pemuliaan.
Kemudian ayat selanjutnya:
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ [الإسراء: 24]
Artinya: Lembutkanlah dirimu terhadap keduanya, rendahkanlah dirimu kepada mereka berdua, jadilah engkau orang yang lembut sikapnya dan tawadhu’ (merendah) kepada mereka karena sangat besarnya kasih sayang dan kelembutanmu kepada mereka.Ingatlah bahwa kemarin, di masa kecilmu, engkau adalah makhluk Allah yang paling membutuhkan mereka.
Siapakah yang membersihkan kotoran darimu di masa kecilmu?
Siapakah yang begadang di malam hari demi kesehatanmu ketika bayi?
Siapakah yang memikul bebanmu sementara engkau tidak menyadarinya dimasa kecilmu?
Mereka berdualah orang tua itu, dan di antara keduanya, ibu berada di posisi terdepan.
Firman Allah Ta’ala:
وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Di dalamnya terdapat dorongan yang kuat untuk mendoakan kedua orang tua dengan rahmat yang abadi, sebagai balasan atas rahmat mereka kepada anaknya ketika kecil, serta atas pendidikan dan pemeliharaan mereka terhadapnya di saat ia lemah dan sangat membutuhkan.Mendoakan kedua orang tua yang Muslim termasuk salah satu pintu berbakti yang paling agung, baik ketika mereka masih hidup maupun setelah mereka meninggal dunia.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا﴾ [Al-Baqarah: 83]
Dan firman-Nya Subhanahu:
﴿وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا﴾ [An-Nisa’: 36]
Dan firman-Nya ‘Azza wa Jalla:
﴿قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا﴾ [Al-An’am: 151]

Posting Komentar untuk "Berbakti kepada Kedua orangtua adalah setiap hari"